Jumat, 04 Januari 2013

Tanggapan Dan Implementasi Teori Piaget Dalam Pendidikan Nasional Di Indonesia

Tanggapan tentang Teori Piaget

Dalam teorinya, Piaget banyak mengemukakan tentang pentingnya pengetahuan atau skema awal anak karena dengan skema awal tersebut anak bisa membentuk skema baru melalui proses asimilasi dan akomodasi. Namun jika dalam kelas banyak anak yang memiliki pengetahuan awal yang berbeda, guru akan mengalami kesulitan dalam memulai proses belajar mengajar. Karena itu seorang guru harus memiliki pandangan dan ilmu yang luas agar bisa menerima pandangan -pandangan muridnya yang berbeda tanpa harus menyalahkannya. Proses belajar dengan prinsip konstruktivisme memerlukan evaluasi khusus agar bisa mengukur kemampuan siswa yang sebenarnya. Karena yang diutamakan adalah proses berfikir siswa dalam membentuk pengetahuannya, maka bentuk evaluasi yang cocok  adalah evaluasi yang bisa mengukur kemampuan berfikir siswa dan hanya bisa dibuat oleh gurunya sendiri. 

Dalam pembuatan kurikulum pun seharusnya latar belakang siswa ikut berperan untuk menentukan garis besarnya sebab didalamnya merupakan sekumpulan aktifitas yang harus dilakukan siswa dan harus sesuai dengan minat siswa. Beberapa ahli mengkritisi teori Piaget yang sangat individualistik (Suparno,1997). Perkembangan pengatahuan anak sangat tergantung pada anak itu sendiri melalui aktifitasnya dengan lingkungan, seakan-akan orang lain tidak bisa memberikan pendapat. Padahal pada kenyataannya seorang anak harus bersosialisasi dengan orang lain untuk memperoleh pengetahuan. Namun pada pelaksanaannya telah dikembangkan pembelajaran kelompok untuk melatih kemampuan anak bersosialisasi.Sekarang ini pendidikan di Eropa dan Amerika merupakan contoh pendidikan yang maju. Karena sejak awal abad 20, mereka sudah mempertimbangkan teori -teori belajar para ahlinya dalam mengembangkan kurikulum pendidikannya. Berbagai langkah ditempuh untuk mewujudkan tujuan pendidikan terutama untuk anak usia dini agar anak-anak ini siap untuk menerima pendidikan yang lebih baik di tingkat yang lebih tinggi.
 
Teori Piaget sebagai salah teori pendidikan abad 20  dijadikan salah satu acuan. Artinya teori ini memiliki peran dalam memajukan pendidikan di Eropa dan Amerika pada saat itu.Saya sendiri termasuk penganut teori Piaget terutama dalam proses pembelajaran. Karena teori ini memiliki keunggulan-keunggulan antara lain sangat memperhatikan latar belakang siswa, mengutamakan pendekatan  “student centered” dalam proses pembelajaran dan menuntut guru agar lebih profesional dalam bidangnya. Latar belakang siswa menjadi penting dalam teori ini karena siswa-siswa datang dari kondisi yang berbeda baik suku, budaya, lingkungan rumah dan keluarga, kemampuan dan sebagainya.
Dengan memperhatikan latar belakang siswa, guru akan lebih memahami pengetahuan atau skema awal siswa sebelum memulai pelajaran sebab hal ini penting dalam rangka menambah pengetahuan siswa agar pengetahuan baru tersebut terasimilasi atau terakomodasi dalam pikiran siswa tanpa ada keragu-raguan. Begitu pula dengan   menjadikan pendekatan  “student centered” sebagai yang utama, maka  proses belajar harus bersumber pada siswa agar proses pembelajaran lebih cocok bagi siswa sendiri.
 
Implementasi Teori Piaget dalam Pendidikan di Indonesia

Teori Piaget ini baik jika bisa diterapkan di Indonesia. Bila kita ingin bercontoh pada negara-negara maju dalam sistem  pendidikannya, mengapa landasan mereka tidak kita contoh. Pada kenyataannya pendidikan di Indonesia belum mencapai taraf maju seperti di Eropa dan Amerika walaupun kita banyak mencontoh dari mereka,  karena kita hanya mencontoh tapi kurang memperhatikan kemampuan dan keterbatasan kita baik dari segi kemampuan guru, ilmu pendidikan, anggaran atau fasilitas.
Indonesia (dalam Komar,  2006) memiliki sistem pendidikan nasional dengan ciri-ciri nasionalis, demokrasi, dan pemerintah mewajibkan pelajaran agama di sekolah-sekolah. Dari ciri nasionalis sudah jelas bahwa isi dan jiwa pendidikan harus berdasarkan kebudayaan sendiri, ini berarti walau sistem pendidikan yang dijalani sekarang mencontoh pada negara maju akan tetapi perlu diperhatikan latar belakang kita sendiri.
 
Dari ciri demokrasi dijelaskan bahwa pendidikan harus menanamkan cara berfikir dan berinisiatif atas kemauan sendiri, artinya proses belajar mengajar harus sejalan dengan hati nurani antara guru dan siswanya termasuk kemauan dan kemampuannya. Ciri -ciri ini sebenarnya juga menjadi dasar teori Piaget untuk menekankan rekonstruksi pada siswa dengan memperhatikan aktifitas siswa dalam lingkungannya sesuai dengan kemampuannya sebagai latar belakang. Tujuan akhirnya agar pendidikan yang ditempuh siswa lebih  menjiwai siswa itu sendiri.
Kita menyadari bahwa pendidikan di Indonesia belum siap untuk melaksanakan teori konstruktivisme secara nyata, karena pelaksanaan teori ini harus memperhatikan banyak faktor agar berjalan baik. Guru harus memiliki kemampuan konstruktivis khusus.
 
Hal lain yang harus dimiliki guru adalah pengetahuan yang luas agar bisa mengarahkan proses asimilasi dan akomodasi siswanya, kemampuan berkomunikasi dengan siswa yang baik agar bisa lebih memahami siswanya, maupun berjiwa besar karena  bukan tidak mungkin siswa akan menyalahkan pendapat guru karena tidak sesuai dengan skemanya.
Masih banyak guru di Indonesia yang lebih suka mentransfer pengetahuan kepada siswa tanpa memperhatikan pendapat siswa jika ada yang tidak sejalan dengan pikiran   siswa tersebut.
 
Kurikulum 2006 tentang KTSP merupakan suatu langkah awal pembelajaran dengan konsep konstruktivisme. Karena di dalamnya guru bisa menentukan sendiri kurikulum yang akan dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Guru bisa melihat latar belakang siswa, pengalaman, dan lingkungan siswa serta sekolah dimana ia mengajar. Guru bebas membuat evaluasi yang disesuaikan dengan tujuan awal untuk melihat proses konstruksi pengetahuan siswanya.  Sebagai langkah awal dalam kurikulum sebelumnya yaitu kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi, guru harus sudah mulai memperhatikan pemahaman konsep dan keterampilan proses siswa atau kemampuan siswa berinquiry. Ini berarti dengan kurikulum kita yang baru, sedikit demi sedikit pembelajaran dengan pendekatan “student centered” bisa dilaksanakan secara menyeluruh di Indonesia.

Daftar Pustaka
Dahar, Ratna Wilis. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Komar, O. (2006). Filsafat Pendidikan Non Formal. Bandung: Pustaka Setia.
Munari, A. (1994). “Jean Piaget”. Prospect: the quarterly review of comparative education. 24,
(1/2), 311-327.
Suparno, P. (1997). Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Wortham, Sue C. (2006). Early Childhood Curriculum. New Jersey: Pearson Merrill Prentice Hall.













2 komentar: